Sedikit testimoni mengenai penginapan kami di Home in the Garden, Alhamdulillah kami bisa tidur nyenyak karena kasurnya yang nyaman plus AC yang dingin.
Bangun pagi dengan kondisi segar, kami siap untuk menjelajah Melaka. Tujuan pertama adalah Chicken Rice Ball Chung Wah. Karena dekat banget dengan hostel, langsung kami kesana. Tapi sayangnya, meskipun menunya hanya itu saja, kami diberitahu oleh pelayan disana bahwa Chung Wah non-halal. Hiks.. hiks.. Batal deh icip-icipnya. Tapi saya bener-bener bersyukur, Jilbab sebagai identitas, menolong saya lagi kali ini. Hehe.. Alhamdulillah.
Perut lapar banget, kami gak bisa mikir jernih. Yaudah, saya giring Evi menuju bangunan merah, jalan terus menuju reruntuhan St.Paul Church. Agak melelahkan karena kami kelaparan dan harus menanjak ke bukit. Maksudnya sih sekalian jalan, menuju ke arah Mall Dataran Pahlawan. Untuk Malaka sisi ini, saya lumayan hapal karena pada kesempatan ke Malaka sebelumnya, saya main ke Mall mulu. :D
| Bandar Malaka. pemandangan yang baru saya sadari bisa dinikmari dari bukit ini |
When you have no idea what to eat for breakfast, you always can enjoy breakfast menu in your nearesr fast food outlet. Haha.. Saya merupakan salah satu penggemar menu sarapan di berbagai gerai fastfood. McDonald, Burgerking, KFC.. You name it.
Begitu menemukan gerai McD di sudut Dataran Pahlawan mall, kali masuk dan menu yang saya incer adalah Apple Pie nya. Kenapa sih di Indonesia gak ada? Gak ada kan ya? Soalnya sudah setahun lebih mungkin saya gak makan McD. Saya pesen menu sarapan yang terlihat paling menggiurkan plus Pie Apple nya. Harga untuk 1 buah Apple Pie cukup miring, hanya MYR 2.20. Hihi.. Senaaang.. Sebelum makan, gak lupa saya foto dulu untuk di share di Path untuk buat iri teman2 yang kangen Pie ini. :p
| sarapan "sehat" |
Perjalanan kami lanjutkan dengan jalan-jalan santai sambil nyari dessert. Kapan lagi kan, sarapan aja pake nyari dessert segala. Sembari menikmati jalanan Melaka, akhirnya kami kembali tiba di depan Christ Church (bangunan merah). Kami udah ngincer cendol durian yang ada di sebrang christ church sejak kemarin turun bus. Langsung deh kami pesan 2 porsi cendol durian original seharga MYR 4. Penjualnya religi sekali. Berjualan sambil memutar murotal Surah Yaasiin kemudian dilanjutkan lagu-lagu Maher Zain.
Lokasi yang strategis di pinggir sungai dan pemandangan kece menambah nikmatnya cendol durian dingin di hari yang terik.
Cendol durian habis dengan cepat. Segerrr.. Sayangnya menurut saya durennya kurang banyak! Heheee..
Jalan-jalan kami lanjutkan dan kami menemukan sudut lucu yang warna warni. Sedikit mengingatkan Haji Lane, tapi warnanya lebih ceria dan menyenangkan. Memanjakan mata dan terlihat akrab dengan Fuji saya.
| Colorful! |
| Saking gak ada yang fotoin, timer pun jadi. Tapi temboknya keliatan -__- |
Setelah puas foto-foto, kami kembali ke hostel untuk check out dan memulai perjalanan menuju KLIA2 untuk trip ke kota selanjutnya.
Sempat terlena dengan dinginnya AC kamar kami, kami pun berangkat menuju Bangunan Merah untuk naik bus nomor 17 menuju Melaka Sentral. Dari Melaka Sental, kami akan naik bus menuju KLIA2. Urusan pertiketan sudah beres. Namun tak disangka, kami harus menunggu bus cukup lama. Sempat ragu untuk ganti plan dengan naik taxi, akhirnya sang bus datang. Alhamdulillah.
Di luar dugaan, rupanya perjalanan kembali menuju Melaka Sentral cukup panjang dan ternyata Melaka juga macet. Kami resah dan pasrah. Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 13:00. Kami masih dijalan. Hampir pasti kami ketinggalan bus menuju KLIA2. Hangus sudah bookingan tiket.
Saya panik. Kejadian 2x ketinggalan pesawat pulang dari Kuala Lumpur, membuat saya trauma. Ada apa dengan saya dan negri ini? Mungkin saya terlalu percaya dengan traffic negri ini, padahal macet juga seperti Jakarta. Setibanya di Melaka Sentral, kami langsung ke loket bus Transnasional dan sesuai dugaan, kami ketinggalan bus dan bus selanjutnya ada pukul 15:00. It's not funny.
Akhirnya kami harus berpikir cepat dan memutuskan untuk naik bus ke TBS (Terminal Bersepadu Selatan). Harga tiket sekitar MYR 15. Dari TBS kami bisa melanjutkan perjalanan ke KLIA dengan Tren (kereta cepat yang menghubungkan KL Sentral - TBS - KLIA - KLIA2.
Harga tiket Tren dari TBS menuju KLIA2 cukup mahal, yaitu sekitar MYR 35. Kami pasrah karena memang tidak ada pilihan lain. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Cepet banget ya..
| Nelangsa. Tiket hangus dan musti bayar mahal atas sifat TERLALU SANTAI |
Setibanya kami di KLIA2, saya terpana. Wahhh.. LCCT yang diganti menjadi KLIA2 memang benar-benar berubah total! Ini mah bukan bandara, tapi mall! Bener2 kaya mall! Ramai dan penuh dengan pertokoan! Oh iya, disana ada gerai Nanny's Pavilion looh. hehee..
Alhamdulillah proses check in dan imigrasi lancar, meskipun antri cukup panjang dan berantakan. Setelah lewat imigrasi, ternyata kami harus jalan jauuuh lagi menyusuri "mall KLIA" ini menuju gate kami. Sampai akhirnya kami tiba di gate dengan status "LAST CALL". Astagaaa.. Hampirrr aja.
Atas kejadian menegangkan hari ini, kami tetap bersyukur gak ketinggalan pesawat dan siap untuk melanjutkan perjalanan menjelajahi kota selanjutnya di negara yang belum pernah kami berdua kunjungi.
We are ready!!!
| 18.40 dan langit KL masih seterang ini |
With Love,
Sitta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar