Komentar pertama mengenai bandara ini, this is better than I ever imagined! Jujur, banyak pandangan saya yang meremehkan Vietnam. Maksud saya, saya selalu mengira bahwa Indonesia adalah negara yang lebih maju dari Vietnam, jadi dalam hal sarana umum harusnya Indonesia lebih unggul dong. Tapi kenyataannya, gak juga. Saya baru bisa menilai bandara nya ya. Wah bandaranya sepertinya sih baru di renovasi. Tapi cukup bagus loh, seperti bandara Kuala Namu deh. Kurang berbau etnik, tapi bersih daaaannn.. wi-fi nya kenceng! haha.. Penting dong buat kita para turis yang pengen ngabarin orang-orang tersayang. Wifi tersambung tanpa password dan notif di HP saya langsung pada masuk. heheee... Coba bandingkan dengan Soekarno Hatta International Airport. Ada sih tulisan Free Wifi Access. Tapi pada kenyataannya? Gak pernah ke detect di HP saya nama wifi Soeta. Well, penilaian tentang wifi memang terlalu sempit.
Setelah selesai urusan imigrasi dan perbagasian, kami mencari counter yang menjual sim card. Kami memilih Viettel dengan harga 150.000 VND, dapat unlimited, dengan FUP 3.5GB. Beres.
Selanjutnya kami mulai keluar untuk melihat langit malam Ho Chi Minh. tsahhh..
Begitu menginjak pintu keluar.. beuhhh.. kami kagettt.. pintu kedatangan dipenuhi oleh orang-orang yang menjemput kerabat mereka. Buanyakkk banget. Banyak juga yang pakai papan nama segala. Udah kaya selebriti disambut fans deh rasanya. Ide usil kami muncul. Kami foto dan berkhayal layaknya selebritis yang sedang tour keliling dunia. Hahahaa..
![]() |
| Disambut FANS! |
Sedikit tips untuk yang berminat traveling ke Ho Chi Minh. Taxi yang tepercaya adalah Mai Linh dan Vinasun. Mereka pakai argometer dengan bilangan x1000. Untuk taxi dari bandara, kena tambahan biaya 10.000 VND. Antrian taxi rapi dan tidak terlalu panjang. Mungkin karena bandara ini tidak sebesar Soetta ya..
Kami langsung beranjak ke hotel. Kali ini kami pilih 23 TownHouse Saigon di kawasan District 1. Kami pilih penginapan yang sangat dekat dengan Ben Tanh Market dan dekat kemana-mana (kata Agoda). Begitu tiba dan masuk kamar, aahhh.. Kamarnya Lucuuu. Liat sendiri di Agoda yaa.. Rasanya pengen nyontek deh buat bikin kamar kaya gitu.
Setelah istirahat sebentar, kami keluar lagi mencari makan malam.
Waktu itu malam minggu. Jalanan tidak seramai yang kami perkirakan, Tapi memang, banyak kedai kopi yang diramaikan oleh orang-orang dari berbagai usia. Mereka tumpah ruah duduk di trotoar dengan kursi pendek / dingklik. Mengopi. Bersama. Ngobrol. Tua, Muda, abang-abang, muda-mudi gaul. Gak keliatan gap yang jelas apakah si ini tajir, si itu kurang. Ya santai aja gitu. Kalo di Jakarta kan... ya gitu deh.
Menarik banget ngeliatnya. Beneran terbukti bahwa HCM memang banyak warung kopi dimana-mana. Banyak bangeeet. Mungkin ini statement mereka bahwa mereka memang salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Ada 1 hal yang saya sesali : saya gak ambil foto kondisi orang-orang ngopi sampai tumpah ruah ke trotoar. Due to my respect to them sih sebenernya. Mungkin bisa kalian cari di google biar ada bayangan.
Kami cari resto yang aman dan agak adem alias pake AC. Akhirnya kami masuk ke sebuah cafe untuk makan dan icip-icip kopi pertama kami di Saigon alias HCM. hihi..
| Kafe kaya gini malah sepi ya |
Sampe di hotel, bersih-bersih, termasuk cuci baju. Namanya juga bawa baju dikit banget kaaaan, jadinya musti nyuci deh. Habis nyuci, langsung nonton bola dan bobo dengan manis.
Cerita hari ini kurang seru ya. Memang.
Dilanjutkan besok ya. Mudah2an lebih seru.
;)
With Love,
Sitta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar