8 Mei 2011
Hari bersejarah buat gue karena untuk pertama kalinya,
Paspor gue dikasih cap sama bagian imigrasi. Bermodalkan tiket super duper
murah yang gue beli dari sebuah maskapai penerbangan warna merah. Gue ga akan
bilang harga tiket PP gue berapa, karena hampir semua orang yang gue kasih tau,
bakalan teriak saking kagetnya. Murah banget.
Berangkat dari Soekarno-Hatta International Airport malem
banget, kami tiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) jam 1 pagi waktu
sana. Yang gue pikirkan adalah “hmmm.. ini kok hawa-hawa nya kaya hawa
Kalimantan ya” Well, just ignore it. Dan gue sama si Ina berteriak “akhirnya
kita berpijak di negri lain!!!” norak memang, biarkanlah.
| Ka Untung, AA Isma, Ina, dan Gue |
Dari KLIA kami naik bus menuju Monorail Station, lalu
disambung taxi menuju hostel. HEYY..
Baca huruf “S” nya jangan ketinggalan ya karena kondisinya bakal jauh
beda. Hehe.. yap, kami menginap di sebuah hostel bernama PONDOK LODGE di kawasan Bukit Bintang.
Begitu
turun taxi, kami melihat barisan mobil-mobil mewah dengan knalpot gerung-gerung
dan audio ga santai, nyalain lagu-lagu HIPHOP berat. Ghetto ghetto gitu.
Rupanya, empunya mobil itu adalah geng-geng beranggotakan pria-pria india
berbulu dada aduhai. Lanjut.. Kami berjalan menyusuri Jl. Changkat Bukit Bintang. Bisa di bilang, sepanjang jalan ini tuh mirip dengan perpaduan kawasan Kemang Jakarta Selatan, Jalan Jaksa Jakarta Pusat, dan Seminyak di Bali. Intinya sih restoran, bar, dan club berbaris. Orang-orang dari berbagai negara kumpul dan hang out disini. Gue yang suka pengen tau dengan tempat-tempat semacam ini, sumringah sekali. Apalagi pas tau bahwa hostel kami berada di atas sebuah bar.
Pondok Lodge ini, recommended sekali buat gue. Tempatnya nyaman, karena 1 kamar, bisa buat berdua aja, beda dengan Hostel Backpacker lainnya yang bisa sampe 6 orang,bahkan campur cewe-cowo. Kamar mandi nya bersih dan Mas-Mas yang buatin sarapannya asik, bisa minta nambah.
Speaking of Mas-Mas, gue punya kesulitan buat mengucapkan kata panggil laki-laki atau pun perempuan di tempat yang berbeda. Karena yang gue tau di Jakarta panggilanya "abang", di jawa manggilanya "mas" dan di Padang manggilnya "Uda". Bahkan pas gue di Banjarmasin pulang kampung, gue bingung manggil Drivernya mau pakai sebutan apa. akhirnya gue pake "Mas" lalu gue denger nyokap pake panggilan "nang" singkatan dari "anang", anak laki-laki dalam bahasa Banjar".
ih, pembicaraannya belok parah yaa..
Lanjut ke hostel. Ya ga ada lanjutannya sih, pokonya buat yang mau Travelling irit, bolehlah nginep disini. Murah dan nyaman.
Well, ini pun pengalaman pertama gue nginep di hostel. Serius, ini tuh ga lebih bagus daripada hotel yang pernah gue inepin di Baturaja, Sum-Sel, yang katanya hotel paling mending disana tapi nyatanya, yaaa...gitu deh. Kaya Kamar kos sih tepatnya. Kamar mandi dipake rame-rame dan jangan kaget kalo pas lo lagi nonton tv di ruang tengah, ada Bapak-Bapak Melayu gendut pake anduk doang, baru selesai mandi. Namanya juga hostel.
Sampai hostel kami istirahat, tidur dan paginya bersiap diri untuk ke Genting, sebuah tempat wisata alam yang terkenal dengan Casino nya (dibahas lanjut di next Post).
Keluar hostel, suasana sepanjang jalan Changkat berbeda banget dengan malam. Sepi bekas orang malam mingguan, tapi disana bersih, ga ada sampah berserakan. Beda banget sama Jakarta after event. Dengan senang hati kami jalan kaki ke Monorail Station terdekat dan nonstop foto-foto yang mengakibatkan kami terlambat naik bus ke Genting.
![]() | |
| Suasana pagi Bukit Bintang |
Setiap ada spot foto oke, kami foto. Prinsip kami adalah "Bolehlah Meng-alay di negeri orang". Toh ga ada yang kenal. hehe..
Keasikan foto bikin kami terlambat mengejar bus ke Genting. dengan kebingungan yang amat sangat, kami memutuskan untuk naik taxi. agak gagal sih judulnya kalo mau dibilang mau Backpacker-an.
Mau tau gimana kelanjutan cerita kami ke Genting?
Harus mau lah yaaa...
Tunggu di the Next post yaaa..
Love,
SItta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar