Rabu, 04 Februari 2015

Ephesus Village and a Little Fashion Show

Wuah sudah hari ke tiga aja perjalanan kami selama di Turki. Udah ga ngerti lagi deh ini udah di kota ke berapa. Hati saya masih sedikit tersisa di Izmir sih, sedikit menyayangkan kenapa ga sempet nginep disana. Mungkin ga ada tempat wisata lagi kali ya. Bener2 cuma kota untuk tempat tinggal, ngantor,  dan sekolah.

Saya bangun pagi dengan perasaan terkagum2 melihat pemandangan perkampungan bertumpuk2 di atas bukit seperti Santorini di sebrang balkon kamar hotel. Tapi ga boleh lama2 terkagum kalo ga mau telat. Setelah sarapan, kami langsung menuju ke destinasi pertama : Workshop pengrajin kulit domba.
Begitu tiba di tujuan,kami disambut dengan sangat hangat, kemudian digiring masuk ke sebuah ruangan dengan catwalk di tengahnya, sambil disuguhi Turkish Tea. Sang Manager membuka acara, menyambut kami dengan sangat hangat, kemudiam fashion show dimulai.
Para model2 cantik dan ganteng (ganteng banget) keluar dengan menggunakan jaket kulit domba produksi tempat ini. Popular namanya. Di semua jaket yang dipakai, diberi nomor sehingga kami bisa menindaklanjuti kalau berminat untuk membeli. Fashion show berjalan seru dan menyenangkan. Menyegarkan mata deh pokoknya. Hehehheeee..
Setelah fashion show, sang Manager presentasi dan mulai JUALAN. Tiap2 kami dihampiri oleh seorang pramuniaga yang sangat agresif. Begitu melihat harga, wah... saya sih jujur, langsung ilfil. Meskipun mereka memberi iming2 bahwa mereka adalah supplier kulit untuk merk Burberry, Armani, dan LV, saya tidak tertarik karena biar bagaimana pun, akan lebih wothed kalo beli di toko merk2 tersebut langsung. Lain hal dengan ka Eba dan ibu2 lainnya, mereka sih belanja. Buat saya, belom waktunya. Mendingan uangnya untuk trip selanjutnya. Hehehe..

Melihat perilaku pramuniaga di workshop lamb skin ini, saya jadi ga berani kalo liat2 barang di toko sendirian. Bisa jadi dipepet terus, sampe kita beli. Mendingan terus dalam keadaan bergerombol deh.


Jelang fashion Show
Okay. What is this all about??
Setelah dari workshop yang menakutkan itu, kami lanjut ke spot yang amat sangat saya nanti2kan. Ephesus Village. Perkampungan bekas peninggalan Romawi yang hancur oleh gempa dan longsor. Ephesus ini dulunya adalah ibu kota Romawi. Tinggal puing2 nya aja, tapi masih cukup bisa terbayang kondisi jaman dulu gimana. Sisa2 kepercayaan paganisme ketika itu sangat terasa karena banyak patung ukiran dewa dewi. Yang menarik  perhatian saya di Ephesus ini adalah Library, Toilet massal, patung Herkules, dan Dewi Nike.
Bekas library / perpustakaan di Ephesus ini termasuk spot yang legendaris dan juga sering muncul di buku2 atau video2 travel. Sungguh, keren banget.
Perkampungan ini sebenernya terasa seperti  kota sendiri, karena ada gedung parlemen, rumah raja, komplek rumah orang kaya, colloseum, dan  beberapa agora. Agora adalah sebutan pasar untuk jaman itu.Waktu kami cukup banyak di Ephesus ini, sampai akhirnya terasa cukup lelah.






That Legendary "Library of Celcus"


dewi nike


Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju kota lain. Pamukkale. Kota ini terkenal dengan Hierapolis dan Cotton Castle. Hierapolis juga merupakan kota peninggalan Romawi kuno dan di salah satu sudutnya, ada terasering yang terbentuk alami dari mineral kapur dan sulfur. Rencananya sore itu kami akan langsung melihat cotton castle, tapi karena hujan, jadwal dipindahkan menjadi keesokan pagi nya.

Sebagai pengisi kegiatan, karena Pamukkale merupakan kota penghasil kapas yang cukup besar, kami di ajak ke sebuah toko besar seperti Factory Outlet. Disana selain menjual fashion items dan home linen berbahan dasar kapas, dijual juga yang berbahan dasar serat bambu. Serat bambu dikenal bersifat lebih dingin dibandingkan katun, sehingga biasa digunakan untuk musim kemarau. Di sana kemarau aja masih pake selimut ya. Kalo di sini mah, gerah banget. Hehehe...


Namanya juga FO, secara fashion, barang yang dijual kurang menarik. Saya aja cuma beli handuk bergambar real madrid. Dari situ, saya ngobrol banyak dengan seorang pramuniaga yang sangat menggilai sepakbola. Dia sedih banget 2014 ini Turki ga masuk ke dalam World Cup, tapi one day, Turki bakal jadi juara dunia. Aamiin. Dia fans berat Galatasaray. Saya cerita aja bahwa saya fans berat Mesut Özil. Langsung deh dia cerita2 dan bangga bahwa Mesut adalah orang Turki. Iye mas, saya tau. Hahaha.. Tadinya saya mau ngadu domba dia dengan sang Tourguide yang merupakan fans berat Fenerbahce. Tapi ga jadi deh. Di tanah orang masa mau ngadu domba.

Selesai berbelanja, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan bawah belakang cotton castle. Anggap saja sebagai teaser sebelum besok pagi melihat cotton castlenya beneran. Dan memang, dari bawah belakang aja gundukan bukit kapur ini sudah cantik banget. Dengan dihiasi danau yang terlihat seperti danau buatan dan bebek serta angsa yang lucu2 berseliweran, view disini indah banget!
Dinas pariwisata Turki memang pandai mengelola tempat wisata. Padahal taman ini gratis dan bisa dimasuki siapa saja loh.

Di tour saya hari ke tiga ini, sudah tak terhitung saya mengagumi kebesaran dan kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan alam Nya. Ucapan Mashaa Allah dan Subhanallah terlontar spontan hampir sepanjang hari. Saya baru menjelajah sepertiga dari plan perjalanan kami, tapi sudah begitu banyak pengetahuan dan pemandangan indah yang saya dapatkan. Alhamdulillaah.


Setelah perjalanan seharian yang cukup melelahkan, kami check in di Villa Lycus untuk beristirahat. Suhu Pamukkale sejauh ini adalah suhu paling dingin yang pernah saya alami, mencapai -1 derajat celcius. Kami harus jaga kesehatan, karena perjalanan masih panjang dan masih ada banyak pemandangan indah yang akan kami saksikan..

Barisan pohon kapuk dengan background gunung apa ya namanya.. lupa.

Penampakan Pamukkale Cotton Castle dari belakang


MasyaAllah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar